PROBOLINGGO JP – Nuansa Idul Fitri masih terasa hangat di Kampung Arab, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, pada Jumat (4/4/2025). Suasana kian syahdu saat ratusan jamaah dari berbagai latar belakang berkumpul dalam acara Silaturahmi Akbar, yang mempertemukan para masayikh, habaib, tokoh masyarakat, hingga warga lokal dalam semangat ukhuwah Islamiyah.
Yang membuat acara ini istimewa adalah kehadiran lintas mazhab dan aliran Islam. Pengikut Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Al-Irsyad, Jamaah Tabligh, Salafi, hingga Syiah tampak duduk berdampingan, mencerminkan persatuan dalam keberagaman.
“Kita dikumpulkan oleh La ilaha illallah, oleh Al-Qur’an, dan oleh Nabi Muhammad SAW,” ujar Ustadz Kholid Awad Al-Asydaq dalam sambutan yang menyentuh hati para hadirin.
Acara ini dihadiri sejumlah tokoh terkemuka, di antaranya:
Syekh Ahmad Banawir, Ketua Dewan Pimpinan Harian Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Probolinggo sekaligus pengurus Al-Irsyad.
Ustadz Kholid Awad Al-Asydaq, dai asal Kraksaan yang kini berdakwah di Surabaya.
Habib Hasyim bin Husein Alhabsyi, pengasuh Pondok Pesantren Tarbiatul Akhlaq.
Habib Hasan Ismail Almuhdor, pendiri Majelis Sholawat Ahbaabul Mustofa.
Muhammad Amin Haddar, anggota DPRD Kabupaten Probolinggo dari Fraksi PPP.
Para jamaah tidak hanya berasal dari Kraksaan, tetapi juga dari berbagai kota seperti Jakarta, Pekalongan, Surabaya, Pasuruan, Bondowoso, Situbondo, Banyuwangi, hingga Bali. Namun demikian, sekitar 98% hadirin merupakan warga asli Kraksaan, baik yang menetap maupun yang tengah mudik.
Dalam tausiyahnya, Ustadz Kholid menegaskan pentingnya ukhuwah Islamiyah sebagai fondasi kehidupan bermasyarakat. Ia mengutip hadits Rasulullah SAW tentang tujuh golongan yang mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat, salah satunya adalah mereka yang saling mencintai karena Allah.
“Perbedaan adalah rahmat. Kita semua saudara seiman. Saling cinta dan kasih sayang adalah nikmat dari Allah SWT,” tegasnya.
Habib Hasan Ismail Almuhdor menambahkan bahwa silaturahmi seperti ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan bagian dari ketakwaan.
“Termasuk dalam bentuk ketakwaan adalah tidak menyimpan kebencian di hati terhadap siapapun,” ungkapnya.
Ia mengajak hadirin untuk menjauhi perpecahan dan memerangi kebencian, yang menurutnya merupakan misi setan yang kerap disusupkan melalui perbedaan politik, akidah, dan lainnya.
Sebagai penutup, Habib Hasyim bin Husein Alhabsyi memimpin doa bersama. Suara lantang “Aamiin” menggema, mengiringi harapan agar ukhuwah terus terjalin dan membawa keberkahan bagi umat Islam.
Menjelang pukul 22.00 WIB, nuansa religi semakin kuat saat alunan musik gambus dan instrumen khas Timur Tengah mulai dimainkan. Petikan merdu gitar oud, gesekan biola, serta irama ketipung menyatu dalam syair-syair munajat Islami.
Hadir pula Habib Bidin Segaf Assegaf dari Pekalongan yang menambah semarak suasana. “Bukan sekadar hiburan, musik ini justru menambah keimanan,” ujar Yusuf, salah satu pemain biola.
Silaturahmi akbar ini bukan hanya momen spiritual, tetapi juga sosial. Banyak warga memanfaatkannya sebagai ajang reuni keluarga dan teman lama, mempererat kembali hubungan yang sempat terputus oleh jarak dan waktu.
Lebih dari itu, acara ini menjadi pengingat akan sejarah panjang Islam di Probolinggo, daerah yang sejak lama dikenal sebagai simbol keberagaman dan persatuan umat Islam. (Fik)